RSS

Malam Pergantian Tahun Baru

Malam Pergantian Tahun 2010-2011
Hari itu tanggal 31 Desember 2010 (ya iyalah, dari judulnya udah keliatan y. .;p). Banyak orang sudah memiliki rencana untuk menghabiskan malam pada hari itu atau istilahnya “Malam Tahun Baruan”. Begitu juga dengan saya. Sebenarnya, seumur hidup saya tidak pernah merayakan apa yang namanya “Tahun Baru’. Pertama, karena dalam keluarga saya tidak ada “adat” seperti itu. Kedua, karena dalam pandangan saya pergantian tahun tersebut bukanlah sesuatu yang musti dirayakan (kecuali Tahun Baru Hijriyah). Tapi pada akhir tahun kemarin, saya bersemangat untuk ikut “berperan” dalam acara tahun baruan (tapi bukan karena pandangan saya yang telah berubah lhoh, tapi karena hal itu merupakan salah satu kegiatan dari UKM yang saya ikuti, yaitu KSR). Acara yang saya ikuti tersebut adalah Penjagaan Malam Tahun Baru. Ada pengalaman yang tak terbayangkan saat say amengikuti kegiatan tersebut. Karena untuk megikuti kegiatan tersebut, saya dan seorang teman saya harus melewati beberapa rintangan (halah, lebay! ;p)
Jauh-jauh hari sebelum tanggal 31 Desember tersebut, saya dan salah seorang teman saya, Wanda, memutuskan untuk memilih tempat penjagaan di Gladak.
Okelah, akhirnya tibalah tanggal 31 itu. Pada siang harinya kami (saya dan Wanda) sudah berencana akan berangkat bersama (meskipun jarak rumah saya ke Gladak sangatlah dekat dan dapat ditempuh dalam waktu kurang dari 5 menit dengan berjalan kaki). Wanda akan menunggu di depan BCA sekitar jam 8 dan dia berjanji akan menelepon saya jika telah sampai di tempat tersebut.
Malam harinya, ketika jam HP saya menunjukkan angka 20:00, saya putuskan untuk mengirim SMS ke Wanda, tapi. .pending. Saya coba berkali-kali namun hasilnya tetap sama. Huh. . Akhirnya, sekitar pukul setengah 9, saya mencoba meneleponnya, tapi. .”Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan”. Saya mulai ragu jangan-jangan Wanda tidak jadi datang, padahal maksud saya menelepon tadi agar Wanda menuju rumah saya terlebih dahulu dan menitipkan motornya di rumah saya saja (karena jalanan begitu padat dan ramai, kata ortu saya). Saya menunggu dan terus menunggu telepon dari Wanda. Akhirnya ketika jam HP saya menunjukkan 21 lewat beberapa menit, Wanda menelepon saya, huffh. . .Alhamdulillah. . Tanpa menunggu lama saya segera mengambil tas dan menuju tempat Wanda menunggu.
Sesampainya di tempat yang dimaksud Wanda, saya tidak langsung dapat bertemu dengannya, karena di luar dugaan saya, ternyata tempat tersebut begitu sangat padat dan sangat ramai. Saya mencoba meneleponnya, tapi hasilnya sama seperti awal saya menelepon dia tadi. Tiba-tiba ketika menoleh ke belakang, saya melihat seorang perempuan berjilbab duduk di atas motor dan. . .HP saya berdering, ternyata telepon dari Wanda. Saat bercakap-cakap dengan Wanda di telepon, perempuan berjilbab tersebut juga menoleh ke arah saya, dan. . . . .Wanda! Ternyata benar dugaan saya, ternyata perempuan berjilbab di atas motor itu adalah Wanda. Langsung saja saya duduk di atas motor Wanda dan dia pun langsung menstater motornya.
Mulalilah saya dan Wanda menyusuri citywalk malam itu. Seperti yang sudah saya katakan tadi, tempat ini begitu sangat padat dan sangat ramai. Di sebelah kanan  berjejer orang-orang berjualan. Ada yang memakai gerobak, ada yang hanya menggendong bakul, dsb. Di sebelah kirinya, puluhan motor berjajar dengan puluhan pasang laki-laki dan perempuan duduk di atasnya (ih, risih banget melihat yang ini!). Dan bagian tengah jalan inilah yang digunakan untuk motor berlalu lalang. (Sebenarnya, dalam situasi yang “normal”, tidak ada kendaraan bermotor yang diperbolehkan melintasi citywalk, kendaraan bermotor hanya boleh melewati badan jalan Slamet Riyadi. Tapi karena malam itu jalan Slamet Riyadi sudah dipenuhi ratusan orang, maka kendaraan bermotor terpaksa hanya bisa melewati bagian tengah citywalk yang hanya tersisa sekitar 1m lebarnya).
Karena begitu padat dan ramainya jalan ini, maka kendaraan motor hanya bisa menjalankan motornya dengan kecepatan yang paling minimum. Untuk maju satu langkahpun diperlukan waktu beberapa menit, karena begitu macetnya lalu lintas malam itu. Saya melirik jam di HP saya, pukul sepuluh kurang beberapa menit. Waktu itu, setengah perjalanan pun kami belum sampai. Padahal jarak dari tempat Wanda menunggu dengan pos penjagaan kurang dari 200m. Hufft. .
Beberapa menit berselang, tiba-tiba sesuatu yang tidak kami harapkan terjadi. Motor Wanda tiba-tiba berhenti dan tidak hidup ketika distater kembali. Wanda mencoba menstaternya berulang kali, namun hasilnya tetap sama. Akhirnya kami putuskan untuk menepi. Setelah kami periksa, ternyata bensinnya habis. Aduduh. . Kemudian seseorang menghampiri kami dan menyarankan untuk dichuk saja motornya. Namun, hal itu hanya dapat membuat motor bisa berjalan beberapa meter saja. Yah, percuma donk, pikir kami. Lalu saya putuskan untuk menelepon rumah dan meminta bantuan. Alhamdulillah Bapak saya mau mengantarkan 1liter bensin ke tempat kami berhenti.
Setelah mendapatkan bensin, mulalilah kami melanjutkan perjalanan. Semain larut, jalanan semakin padat. Saya melihat jam kembali, hampir pukul setengah sebelas. Saya dan Wanda mulai pasrah jika kami memang harus membatalkan acara kami malam itu. Di ujung jalan yang kami lalui, tak sedikitpun celah terlihat. Kami dan para pengendara motor lainnya pun mematikan mesin motor karena sepertinya memang tak ada kesempatan lagi untuk melanjutkan perjalanan.
Kami berhenti di tempat tersebut tanpa melakukan sesuatu yang berarti. Kami hanya melihat sekeliling, berharap semoga kami bisa melanjutkan perjalanan untuk ke pos.
Ternyata, Tuhan masih memberi kesempatan untuk niat kami. Setelah beberapa menit menunggu, motor-motor di depan kami mulai distater dan berjalan kembali. Tanpa menyia-nyiakan waktu, kami pun segera mengikuti langkah pengendara motor di depan kami. Alhamdulillah akhirnya kami sampai di ujung jalan yang kami lalui.
Namun, rintangan belum sampai di situ. Kami harus mencari tempat parkir. Akhirnya, setelah berkendara hampir 100m, kami baru menemukan tempat parkir yang luang. Segera Wanda memakirkan motornya dan dengan cepat pula kami berjalan menuju pos penjagaan.
Singkat cerita, pukul 11 lewat beberapa menit kami baru tiba di pos penjagaan.(Duh. .bener-bener gag enak hati ni dengan teman-teman yang sudah datang, karena sebelumnya kami berjanji akan datang sekitar jam 8, ini mah udah telat 3 jam). Segera saja kami memakai rompi KSR dan mencari tempat. Saya dan Wanda memilih tempat di depan gereja.
Waktu berlalu dan yang kami lakukan hanyalah berdiri serta mengawasi keadaan sekitar (namanya juga penjagaan). Saya dan Wanda sangat penasaran dengan apa yang akan terjadi/yang dilakukan orang-rang di tempat tersebut ketika jam 00:00 itu tiba. Karena memang, saya dan Wanda tidak pernah merayakan Tahun Baru apalagi sampai keluar ke pusat keramaian seperti itu. Pada tahun-tahun sebelumnya, biasanya saya sekeluarga menghabiskan malam akhir tahun dengan menonton film-film di televisi dan ketika pukul 00:00 telah tiba, kami akan naik ke atas loteng untuk melihat kembang api-kembang api yang dinyalakan di berbagai tempat di Solo.
Waktu menunjukkan pukul 23:47. Kembang api sudah mulai dinyalakan dan semua orang di tempat tersebut langsung berdecak kagum (termasuk saya dan Wanda) karena indahnya pancaran yang dihasilkan (halah! Lebay lagi ne ;p). Namun sayangnya nyala kembang api tersebut dibarengi dengan suara motor-motor yang digleyerkan oleh beberapa pemuda-yang menurut saya dan Wanda-sangat mengganggu kenyamanan.
“Pentas kembang api” tersebut berlangsung hingga pukul 23:57. Saya dan Wanda semakin penasaran apa kira-kira yang akan terjadi di pukul 00:00. Tiba-tiba “pentas” tersebut berhenti dan semua orang pun berganti menghitung mundur dari 10 hingga 1 dan itu artinya. .”Selamat Tahun Baru 2011”.  Sesudah itu, orang-orangpun mulai menstater motornya, yang awalnya naik ke atap-atap gedung mulai turun, nenek-nenek yang tadi ikut naik ke atas taman di sebelah sayapun ikut turun, sebagian lagi mulai berjalan meninggalkan badan jalan Slamet Riyadi. Saya dan Wandapun ternganga. “Lhoh, udah selesai acaranya?? Gag ada “gong”nya??”, pikir kami. Saya tak habis pikir, jadi selama ini orang-orang rela keluar malam, berdesak-desakan, memaksakan membuka mata (minimal) sampai jam 00:00, hanya untuk melihat kembang api?? Apalagi saya juga melihat sebagian dari orang-orang tersebut adalah nenek-nenek, anak-anak kecil, ibu-ibu muda yang menggendong bayinya. Ya, memang saya tahu begitu indahnya pesona kembang api di malam tahun baru itu. Tapi, apakah sebanding?? Yah, memang jalan pikir orang berbeda-beda dan itu hak masing-masing orang, bukan?
Yah, sudahlah. .Tiba-tiba Iim dan Indah, teman kami yang lain seKSR, menghampiri saya dan Wanda. Kemudian mereka mengajak kami berfoto.
Acara saya malam itu diakhiri dengan foto bersama teman-teman KSR yang ikut penjagaan, baik yang ikut penjagaan di Gladak maupun di rel bengkong. .:)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar