RSS

Akhir Sebuah Harapan

Akhir Sebuah Harapan


Malam yang sepi. Sunyi, senyap. Bunyi detik jam yang berjalan seolah merajai malam ini. Meski malam telah larut, aku belum berniat untuk memejamkan mata menuju dunia mimpi. Aku masih asyik menulis ’ending’ sebuah cerita di buku harianku. Sebuah cerita dalam hidupku, cerita cinta. Sambil menulis, kubuka kembali lembaran-lembaran cerita yang telah tertuang di buku harianku. Kembali kubaca semua yang telah kutulis, dari awal cerita, hingga menjelang akhir....

* * *

14 Agustus 2002
Dear diary,
Ini kali pertama aku berbagi cerita denganmu. Entah mengapa sejak seminggu lalu aku ingin sekali mencurahkan isi hati, apa yang kini sedang kurasa. Namun sayang, aku tak tahu kepada siapa aku harus bercerita, hingga pada akhirnya hari ini kubuka kembali lemari bukuku dan kulihat sebuah buku diary yang diberikan oleh sahabatku dua tahun lalu.
Sekarang, aku mulai ceritanya...
Sebulan yang lalu, aku dinyatakan resmi menjadi anak SMA. Awal pertama aku masuk ke SMA, aku dan teman-teman yang lain harus mengikuti MOS, sebuah masa yang sungguh menyebalkan tetapi juga mengesankan...
MOS berjalan selama 4 hari, dan setelah itu aku dan teman-temanku bisa memulai kehidupan yang ’normal’ di SMA ini.
Hari pertama setelah MOS, KBM belum dimulai. Kegiatan hari ini hanya perkenalan antarsiswa dan antara guru-guru mapel dengan siswa.
Oy, sekedar informasi, sekarang ini aku ditempatkan di kelas 1-A, kelasnya anak-anak pandai, begitu kata banyak orang. Terbukti, ternyata di kelasku ini banyak anak-anak olimpiade.
Perkenalan dimulai dan berjalan seperti biasa, hingga tibalah giliran seorang anak olimpiade untuk berkenalan.
Nama anak itu Ahmad Rio Haryanto. Tak ada yang istimewa bagiku. Tapi saat perkenalan tadi, teman-temanku baik laki-laki maupun perempuan banyka yang mengaguminya. Ya, mungkin karena kagum pada prestasinya.
Diary, sekian dulu ceritaku hari ini, aku mau belajar.

14 September 2002
Dear diary,
Sebulan telah berlalu dari awal aku mulai bercerita padamu. Kini aku sedang sibuk menjalani kehidupan sekolahku. Uh...setiap hari ada PR dan tugas. Tapi tak apalah, namanya juga perjuangan.
Tentang nak olimpiade itu, ARH, kharismanya semakin memudar. Banyak teman-teman yang bilang kalau dia itu anak yang sombong. Tapi entah mengapa sekarang aku mulai kagum padanya. Ada apa ini??

30 September 2002
Dear diary,
Hari-hari sekolah berlangsung seperti biasa. Tapi hatiku sedang mengalami rasa yang tidak biasa.
Perasaan kagumku kepada ARH semakin hari semakin bertambah....

20 Juni 2003
Dear diary,
Waktuku di kelas 1 akan segera berakhir. Entah kenapa aku merasa sedih sekali. Aku telah menemukan sahabat-sahabat yang baik di kelas ini, aku tidak ingin berpisah dengan mereka....
Aku juga tidak ingin berpisah dengan ARH. Aku tak tahu mengapa perasaan kagumku rasanya kini mulai berubah, lebih dalam....

15 Juli 2003
Dear diary,
Hari ini hari pertama Aku masuk di kelas 2. Sedih sekali rasanya berpisah dengan sahabat-sahabatku dan...ARH!

20 Februari 2004
Dear diary,
Setengah tahun sudah aku menjalani masa-masa di kelas 2. Alhamdulillha, aku bisa mengikuti pelajaran dengan baik, meski butuh perjuangan. Hubunganku dengan sahabat-sahabatku tetap terjaga meski kami berlainan kelas.
Tapi satu hal yang membuatku tak nyaman, meski telah ’berpisah’ dengan ARH, perasaanku padanya tidak berubah, malah semakin kuat....

15 Juli 2004
Dear diary,
Hari ini aku telah menjadi siswi kelas 3 SMA! =D
Tapi itu berarti perjuangan yang lebih berat akan dimulai! -_-
Satu hal yang membuatku sedih, jarak kelasku dan kelas ARH semakin jauh. Kalau tahun lalu hanya berjarak 3 kelas, sekarang menjadi 5 kelas. Apakah ini berarti aku tidak berjodoh dengannya?

15 Oktober 2005
Dear diary,
Kini aku bukan lagi anak SMA! =d
Alhamdulillah, akhirnya aku bisa menyelesaikan studyku di SMA dengan baik dan bisa melanjutkan pendidikan sesuai dengan harapanku.
Tapi aku juga merasa sedih karena sekarang aku dan ARH benar-benar jauh! Kami berkuliah di kota yang berbeda... :’(
Meski begitu, aku masih berharapa suatu saat kami bisa bertemu. Tapi aku sendiri juga bingung, kalau ketemu dengannya, mau apa? Sejak kelas 1 SMA kami tidak terlalu dekat dalam berteman, bahkan berbicarapun jarang sekali. Kurasa harapanku itu tiada gunanya.

27 Juli 2006
Dear diary,
Setahun sudah aku menjalani masa-masa lepas SMA. Hidup terasa semakin berat. Ya, maklumlah, proses menuju kedewasaan.
Sudah setahun juga ku tak melihat wajah ARH. Tetapi, perasaanku padanya tak berkurang sedikitpun, malah bertambah. Aku jadi tidak yakin dengan perasaan ini, cinta atau obsesi? Aku tahu harapanku berjodoh dengannya hanyalah sebuah angan-angan, karena kau tak pernah berani memperjuangkannya.

5 Oktober 2009
Dear diary,
Hari ini aku menerima pesan dari sahabtku sewaktu SMA dulu.
”Mar, teman kita Rio akan menikah. Teman-temannya SMA diharap bisa datang.”
Deg! Aku terkejut bukan main. Hatiku hancur, perasaanku kacau. Inikah jawaban atas harapanku???

11 Desember 2009
Dear diary,
Hari ini aku datang ke pernikahan ARH. Aku berkumpul kembali dengan teman-temanku semasa SMA dulu, bercanda, dan tertawa layaknya anak-anak SMA.
Kuucapkan selamat pada ARH dan istrinya. Sedikitpun tak terlihat kesedihan di wajahku. Ya, karena kau telah ikhlas menerima kenyataan. Mungkin inilah cara Tuhan menjawab harapanku. Aku bersyukur karena Tuhan menunjukkan kebenaran ini, agar aku tak berlarut-larut dalam harapn yang kosong. Kini aku tahu bahwa dia bukanlah jodohku. Aku yakin Tuhan akan memberiku jodoh yang lebih baik darinya.

* * *

Jam menunjukkan pukul 23.55 WIB. Kuputuskan untuk menutup buku harianku karena esok pekerjaan baru telah menantiku. Dalam hati aku berjanji, esok akan kutulis cerita baru di buku harianku, cerita yang lebih baik....



Solo, 11 Desember 2009
19.10 WIB
Marina Rizki Tri Cahyani

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar